Wednesday, November 19, 2014

Naik Commuter Line : Gagal Menukar Kartu Berjaminan



Sabtu malam alias malam Ahad kemaren melengkapi perjalanan sejarah hidup saya dalam ber commuter line. Ini sekaligus menjadi perjalanan terpanjang saya, naik commuter line dari ujung ke ujung, dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota. Stasiun yang saya lewati Bogor-Cilebut-Bojong Gede-Citayam-Depok Baru-Depok Lama-Pondok Cina-Universitas Indonesia-Universitas Pancasila-Lenteng Agung-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Pasar Minggu Baru-Kalibata-Cawang-Tebet-Manggarai-Cikini-Godangdia-Gambir-Juanda-Sawah Besar-Jayakarta-Jakarta Kota. Itulah kira-kira stasiun-stasiun yang saya lewati. Commuter line rasanya nyaman banget…karena pas sepi. Hehehe...
Ini sebenarnya perjalanan yang diluar rencana. Ceritanya waktu itu bada maghrib saya baru selesai acara di Bogor. Seperti biasa Jakarta-Bogor saya naik commuter line, begitu juga malam itu. Beli tiket Bogor-Pasar Minggu untuk satu kali perjalanan Rp 8.000,- (Rp 5.000,- untuk tiket berjaminan dan Rp 3.000,- untuk ongkosnya). Alhamdulillah begitu masuk stasiun, kereta pas datang. Jadi langsung naik deh, dapat tempat duduk pula dan ngga menunggu lama keretapun berangkat. Alhamdulillah...
Tak berapa lama, masuk pesan dari suami. Memberikan kabar kalau sedang dalam perjalanan ke stasiun kota bersama saudara sepupu. Naik commuter line juga, yang kebetulan pas berada di depan commuter line saya. Jadi niatin untuk langsung turun di stasiun Pasar Minggu saya urungkan, dan lanjut ke Stasiun Kota menyusul suami dan sepupu. Dan singkat cerita akhirnya ketemulah kami di dalam stasiun. Sengaja ngga keluar dulu karena menunggu saudara yang mau transit ke Bandung. Jadi sambil menunggu keberangkatan kereta kita manfaatkan untuk ngobrol-ngobrol sebentar. Tidak sampai 30 menit kereta yang menuju Bandung akan segera diberangkatkan.
Dan suami memegang 2 THB alias Tiket Harian Berjaminan. Tiket yang satu punya dia dan tiket yang satu punya saudara. Baca-baca petunjuk dibalik kartu, ternyata kalau mau melanjutkan perjalanan balik ke Pasar Minggu, tiket harus ditempelkan di pintu keluar, dan kita kembali ke loket untuk membeli tiket baliknya. Saya sendiri tidak ikut keluar, karena sewaktu dari Bogor THB saya untuk tujuan Pasar Minggu, jadi bisa keluarnya ya di pintu keluar stasiun Pasar Minggu.
Gambar dari Google
Alhamdulillah, tak perlu menunggu lama, suami sudah dapat tiket untuk ke Pasar Minggu. Oke dear...Bismillah...let's go...Karena ini stasiun keberangkatan pertama kami bisa milih tempat duduk. Sekitar 40 menit perjalanan sampailah kami di stasiun Pasar Minggu. Sebelum meninggalkan stasiun tak lupa kami ke loket untuk menukarkan kembali THB dengan uang Rp 5.000,- yang kita jaminkan. Ada 3 tiket kartu saya, tiket suami dan tiket saudara sepupu. Dan ternyata... hanya 2 kartu yang bisa ditukar kembali. Sedangkan tiket yang punya saudara tidak bisa ditukar karena belum di tap keluar. Pun ketika kami sudah menjelaskan bahwa transit, jadi ngga perlu keluar, karena kereta yang akan ditumpangi hanya berada di jalur sebelahnya. Tetap saja tidak bisa. Kartu harus tetap di tempel dulu di pintu keluar jika ingin bisa ditukarkan dengan uang jaminan kita. Wowww...Dan akhirnya...kami ikhlaskan saja. Anggap aja dapat souvenir dari PT KAI.Hehehe. Karena untuk menempelnya harus balik lagi ke stasiun kota. Belum kebayang kapan baliknya, sementara kalau sudah lewat 1 minggu kartu sudah expired. Benar saja...pengalaman itu mahal :). Malu bertanya sesat di jalan, pun kalau banyak bertanya juga memalukan :D. Peringatan untuk diriku : 1) baca dengan cermat tata cara penggunaan THB 2)jangan malu bertanya, jika masih ada yang kurang jelas. Malu dikit gpp, daripada sesat di jalan...hehehe
Bagaimana dengan pengalamanmu temans? :)

Tuesday, November 11, 2014

Hotel Santika Palu : Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar



Alhamdulillah, atas karunia-Nya kali ini sampai lagi di Hotel Santika Palu Sulawesi Tengah. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Jakarta-Palu. Berangkat jam 18.10 dan tiba di Palu jam 22.00. Acara kali ini dalam rangka mengikuti workshop. Bismilllah… tholabul ilmi, menyelami kembali lautan ilmu-Nya.
Begitu tiba di hotel waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Sebenarnya jarak bandara ke hotel tidak terlalu jauh,cuma tadi menunggu bagasi dulu, plus nunggu yang lain. Alhamdulillah, langsung dapat kamar karena memang sudah dipesankan sebelumnya. Jadi bisa langsung ke kamar untuk bersih-bersih dan istirahat. In syaa allah esok ready to workshop…
Di Palu ini sebenarnya terdapat banyak hotel. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya mengapa menginap di hotel ini adalah : pertama, hotel ini cukup dekat dengan bandara. kedua, hotelnya bersih dan ada petunjuk kiblatnya. ketiga, hotel ini dekat dengan rumah makan Tamar GOR yang terkenal dengan ayam kampung 'sadis' sehingga kita tidak perlu susah untuk mencari makan. keempat, sarapannya enak-enak.ada menu nasional ada menu tradisional yang cocok dilidah saya :D. 
Hari kedua di hotel. Sore hari bada ashar tiba-tiba dapat telepon diminta untuk pindah kamar. Dapat kamar yunior sweet. Katanya kamarnya lebih luas. Dan tak lama kemudian kamipun diantar ke kamar yang dimaksud. Dan inilah kamarnya...
Ini Ruang Tamu Mini
Pas kesan pertama masuk. Wuahhhh...luas banget...Ada ruang tamu, walaupun mini :)Nggumun, maklum baru pertama kali lihat kamar yang seperti ini disini :)
Alhamdulillah. Jadi inget Ibu dan Bapak. Beliau-beliaulah yang telah mengantarkan saya hingga bisa sampai disini. Barokallahu fiikum... Aamiin...

Terus ada meja kerjanya. Televisinya juga besarrr. Semoga segala karunia ini menjadi wasilah untuk beramal sholih. Menjadikan diri makin tunduk kepadaNya.
Nah, kalau ini tempat tidurnya. Rejeki itu memang tidak pernah tertukar. Bahkan kalau sudah menjadi rejeki kita, dia yang akan mendatangi kita. Seperti kejadian hari ini...


Ini kamar mandinya. Lebih luas juga. Alhamdulillah ada hair dryernya :) Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini memang tidak ada yang kebetulan. Semua atas kehendakNya. Pas bepergian kali ini, pas lupa bawa hair dryer. Lupa, padahal sebenarnya sedang butuh. Namanya lupa kan bonus ya... Allah yang mengkaruniakan lupa... Ternyata hotel sudah menyediakannya atas kehendak Allah. Padahal kalau di kamar yang biasanya tidak ada hair dryer. Betapa Allah itu memberi sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan :)

Thursday, November 6, 2014

Makan Siang Yang Nikmat : Makan Nasi Pecel Sama Kamu



Daging atau ikan sering kali menjadi lauk yang spesial saat kita makan. Apalagi kalau baru bisa dirasakan satu bulan sekali atau lebih dari itu. Makin nikmat rasanya. Pertama karena memang kondisi saat itu sedang lapar dan kedua memang karena lagi pengen bingittttssss... :) Pun ketika makan siang di office, daging, ayam, atau ikan berganti-gantian nikmati dalam lima hari itu. Ada daging yang dibikin rendang, soto, empal, juga rawon. Ada ayam yang dibikin soto, ayam goreng,ayam goreng mentega, pecel ayam, ayam penyet, ayam bakar, juga pecak ayam. Pun demikian juga dengan ikan. Ada ikan mas goreng, ikan mas bakar, ikan lele goreng, ikan bawal, ikan nila, dll. Buanyak deh pokoknya. Jadi kalau dilist bisa dalam satu bulan itu ada 20 menu yang berbeda. Ngga percaya??? Datang aja ke kantin kantor kita...Hehehe sekalian promo :P
Namun hari ini keinginan itu lainnya dari biasanya. Tiba-tiba pengen makan tanpa daging. Hemmm...pilih apa ya??? Yeahhh....Pecel... Lauk tempe goreng. Mantep kayaknya.Sip...Pilihan makanan sudah ditentukan. Berikutnya tinggal mencari teman yang bisa nemenin makan siang. Buka-buka dulu kontak nama di hape. Dan ketemulah orangnya. Berikutnya kirim pesan, dan ....deal. Makan siang bersama di kantin. Alhamdulillah. Walaupun yang diajak sudah bawa bekal dari rumah. Tapi ngga masalah, namanya juga menemani makan. Hehehe.
Ternyata nikmatnya makan siang itu tak perlu dicari dimana-mana. Cukup dengan sepiring nasi pecel lauk tempe tahu, segelas jus jambu, sebutir jeruk dan ditemani kamu itu adalah nikmat yang luar biasa. Alhamdulillah... Bagaimana dengan makan siangmu temansss??? :)

Tuesday, October 28, 2014

Shalat Jumat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar



Hari Jumat tanggal 24 Oktober 2014 atau tepat dipenghujung bulan Dzulhijjah 1435 H kemaren saya singgah di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Dari Poso kalau mau ke Jakarta maka transit dulu di sini. Ini sebenarnya bukan pengalaman pertama saya transit di bandara ini. Namun transit kali ini terasa istimewa karena pas hari Jumat dan pas waktunya shalat Jumat.Jumat barokah. In syaa allah. Aamiin...
Persiapan Shalat Jumat
Karena hari Jumat maka ada kewajiban seorang muslim untuk shalat Jumat. Meskipun memang ada keringanan ketika sedang melakukan safar alias musafir. Namun betapa kagumnya saya, ketika hendak berniat ke mushola yang berada di ruang tunggu untuk melaksanakan shalat Duhur ternyata mushola sedang dipakai untuk melaksanakan shalat Jumat. Subhanallah... Takmir mushola ini memfasilitasi para penumpang dan orang-orang yang bekerja di bandara untuk menunaikan kewajibannya. Sebenarnya musholanya sudah cukup luas, namun karena banyaknya penumpang dan orang yang bekerja di bandara maka jamaahnya membludak hingga di depan toko-toko yang ada di kanan kiri mushola. Dan lagi-lagi takmir mushola ini sudah mempersiapkannya dengan menaruh karpet dan bahkan juga memberikan koran bekas ketika karpet tidak cukup lagi menampung jamaah. Subhanallah indah sekali... Semoga Allah mengkaruniakan kebaikan demi kebaikan kepada orang-orang ini. Nah, sambil menanti giliran untuk shalat Duhur saya manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar tentang suasana shalat Jumat di sini. 
Mushola Penuh hingga ke Depan Toko-toko
Jadi jika suatu hari kebetulan kita transit disini pas hari Jumat dan pas waktunya shalat Jumat, anda tidak perlu khawatir akan ketinggalan shalat Jumat :)
Berbenah kembali usai shalat Jumat

Sunday, October 5, 2014

Shalat Idul Adha di Lapangan Masjid Agung Al Azhar

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi Al-Hamd… Alhamdulillah...suatu nikmat yang tiada terkira kami disampaikan kembali pada Idul Adha 1435H. Diringankan hati dan langkah kaki untuk memunaikan kembali shalat Idul Adha di suatu tempat yang telah Allah takdirkan untuk kami, di Lapangan Masjid Agung Al Azhar.
Lapangan Masjid Al Azhar
Ini sekaligus menjadi pengalaman pertama kami, shalat Idul Adha di tempat ini. Di tempat bersejarah, seorang ulama ternama, Buya Hamka.
Sesuai dengan undangan dari panitia bahwa shalat id akan dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB. Oleh karena itu jam 05.30 kami sudah berangkat dari rumah, sebagai bentuk ikhtiar untuk menghindari kemacetan meskipun hari ini juga hari Sabtu. Alhamdulillah, kurang dari 30 menit kami sudah tiba di lokasi. Dan subhanallah suasana sudah sangat ramai. Dan saya dapat shaf nomer 3 dari depan. Alhamdulillah…
Tepat pukul 07.00 WIB shalat Id dimulai, kemudian dilanjutkan dengan khutbah Idul Adha oleh Ketua Badan Pembina YPI Al Azhar, Prof.Dr H.Jimly Asshiddiqie, SH, khutbah kali ini tentang Pemimpin Yang Berkeadilan. 

Alhamdulillah…berkesempatan untuk sekaligus menuntut ilmu. Bagian yang sangat mengesankan bagi saya adalah penggalan kisah pada zaman kepempimpinan Khalifah Abu Bakar. Dimana pada masa itu Umar bin Khattab diangkat menjadi qadhi di kota Madinah. Setelah satu tahun menjabat, Umar bin Khattab datang menghadap khalifah Abu Bakar guna menyampaikan maksud untuk menyerahkan kembali jabatannya itu kepada khalifah. Khalifah merasa heran dan bertanya, “Apakah engkau merasa berat menjadi qadhi ya Umar?” Umar menjawab, “Bukan ya Khalifaturrasul, melainkan kaum mukminin sama sekali tidak membutuhkan pengadilan. Semua warga kita sudah mengerti apa yang menjadi hak mereka, dan mereka tidak menuntut lebih dari hak mereka; dan apa yang menjadi kewajiban bagi mereka, merekapun tidak berusaha untuk menguranginya.”
Semua warga menyukai untuk sesama mereka apa yang mereka sendiri sukai untuk diri mereka sendiri. Jika ada yang hilang, mereka akan mencarinya. Jika ada yang sakit mereka akan menjenguk. Jika ada yang membutuhkan mereka akan datang menolong. Jika ada keperluan, mereka saling membantu. Jika ada yang terkena musibah, mereka turut berduka. Dan dalam beragama mereka pun penuh toleransi, dan dalam perilaku mereka saling mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Maka bagaimana mungkin mereka mau bersengketa di pengadilan?
Subhanallah… Dan kamipun terngiang dengan kisah itu hingga kini… Ya Rabb, kami bersyukur Engkau karuniakan kesempatan untuk mendengar kisah ini. Dan kini kami memohon kepada-Mu Ya Rabb... beri kami dan para pemimpin kami kemampuan untuk meneladaninya... Aamiin...